Peranan Pasar Modal dalam Menggerakkan Pertumbuhan Ekonomi Sektor Riil

oleh: Lutfi Alkatiri

Selasa, 25 Maret 2008

”Peranan pasar modal ialah bagaimana pertumbuhan pasar modal harus memberikan juga pertumbuhan kepada pasar riil. Itu baru bisa dikatakan pasar modal menggerakkan perekonomian Indonesia” Wakil Presiden RI, M Jusuf Kalla” (Pada Pembukaan Indonesia Investor Forum 29 Mei 2007)

Jenis pasar dalam perekonomian dibagi menjadi pasar barang dan jasa atau product market dan pasar faktor produksi seperti tenaga kerja dan kapital atau factor market. Salah satu bagian dari factor market yaitu Pasar Modal. Secara teori, dana yang didapatkan oleh perusahaan baik melalui pasar modal atau perbankan akan digunakan untuk membeli bahan baku dan dengan bantun dari faktor produksi lainnya akan diolah lalu menjadi produk berupa barang dan jasa yang akan dikonsumsi oleh masyarakat. Dana yang didapatkan dari hasil penjualan barang dan jasa tersebut oleh perusahaan akan digunakan untuk menambah modal perusahaan, membayar upah dan sewa faktor produksi, dan sebagian lagi ditabung diperbankan atau diputar dipasar modal. Dana yang terkumpul baik berasal dari institusi maupun perorangan diperbankan dan atau pasar modal itulah yang akan ditransmisikan kembali ke sektor riil.

Idealnya adalah setiap pertumbuhan yang terjadi dipasar modal mempunyai implikasi nyata pada sektor riil. Virtuous circle itulah yang diharapkan terjadi agar Indonesia bisa terus bertumbuh dan sekaligus membuka lapangan pekerjaan yang lebih luas lagi dan pada akhirnya adalah mengurangi tingkat pengangguran dan kemiskinan.

Bila melihat perkembangan Bursa Efek Indonesia (BEI) yang merupakan hasil penggabungan dari Bursa Efek Jakarta (BEJ) dan Bursa Efek Surabaya (BES) pada akhir tahun 2007. Pergerakan Pasar Modal Indonesia sepanjang tahun 2007 bisa dikatakan luar biasa. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di BEI mencatat kinerja terbaik di 2007 yaitu pernah mencapai 2.810,9 pada 11 Desember dan ditutup pada akhir tahun menjadi 2.739. Berarti pertumbuhan IHSG mencapai 52,08% dari tahun sebelumnya dan ini merupakan pertumbuhan tertinggi kedua setelah Bursa Saham China. Nilai kapitalisasi pasar juga meningkat lebih dari 57% dibanding 2006 yaitu sebesar 1.927 triliun rupiah. Peran pasar modal terhadap PDB juga meningkat dari 37,4% di 2006 menjadi 67% PDB di 2007. Nilai transaksi tahunan juga meningkat 130% menjadi lebih dari 1.043 triliun rupiah. Demikian juga dengan transaksi harian meningkat 138,88% dari 1,85 triliun rupiah di 2006 menjadi 4,3 triliun rupiah di 2007. Ada 61 perusahaan yang masuk ke pasar modal yang terdiri dari 22 perusahaan menerbitkan saham dan 38 perusahaan menerbitkan obligasi dengan nilai total emisi sebesar 47 triliun rupiah. Sementara nilai emisi tahun 2006 hanya mencapai 12,7 triliun rupiah. Inilah salah satu pertanda bahwa pasar modal dan sektor riil merupakan statu hubungan yang tidak terpisahkan.

Bila kita melihat lebih jauh lagi tentang perkembangan sektor riil yang mencakup sektor produktif, sektor manufaktur dan sektor infrastruktur adanya gejala penurunan kualitas pertumbuhan bahkan dibeberapa sektor mengalami pertumbuhan negatif atau mulai timbulnya gejala deindustrialisasi. Berdasarkan data BPS 2007 elastisitas pertumbuhan ekonomi terhadap tenaga kerja antara 180.000 – 200.000. Data ini menunjukkan adanya pergeseran pusat pertumbuhan ekonomi Indonesia dari sektor yang menyerap tenaga kerja banyak ke sektor yang menyerap tenaga kerja lebih sedikit seperti sektor transportasi dan telekomunikasi 12,5% dan perdagangan 8,5%. Sementara itu pertumbuhan sektor pertanian hanya 4,3% dan angka pertumbuhan industri non migas pada 2007 hanya tumbuh 5,15% atau lebih rendah dari prognosa awal sebesar 6,31%. Tiga sektor tercatat mengalami pertumbuhan negatif yakni tekstil, barang kulit dan alas kaki (-3,68%), barang kayu dan hasil hutan (-1,74%), dan barang lainnya (-2,82%). Penyerapan tenaga kerja disektor manufaktur hanya bertambah 220.000 orang saja.

Dari dua hal diatas ada dua hal yang kontradiksi yaitu kinerja pasar modal yang mengkilap sepanjang tahun 2007 kemarin ternyata tidak diimbangi dengan kinerja pada sektor riil atau sektor yang menyerap tenaga kerja. Pertumbuhan indeks saham Indonesia dan besarnya permintaan investor dalam tiap penawaran saham perdana menunjukkan pasar modal Indonesia memiliki prospek yang sangat baik. Pada sisi lain, dampak perkembangan pasar modal ke sektor riil masih terbatas. Mengapa kinerja indeks pasar modal yang meningkat tersebut tidak diikuti peningkatan kondisi perekonomian disektor riil. Sepertinya kinerja pasar modal telah terlepas dari pertumbuhan ekonomi sektor riil atau mekanisme transmisi antara pasar modal dan sektor riil telah terputus. Inilah tantangan kita ke Pemerintah ke depan agar dapat meningkatkan peranan dan kontribusi pasar modal dalam menggerakkan perekonomian nasional khususnya sektor riil. Peningkatan sektor riil tentu akan menyerap tenaga kerja yang berujung pada pengurangan tingkat pengangguran dan kemiskinan. Peningkatan jumlah tenaga kerja tentu akan meningkatkan produktivitas dan daya beli masyarakat yang pada akhirnya akan meningkatkan tabungan dan investasi masyarakat diperbankan dan pasar modal. Dengan virtuous circle seperti ini, maka akan tercipta perekonomian yang sehat dan stabil dalam jangka panjang.

Sumber: CIDES

0 Tanggapan ke “Artikel”



  1. No Comments Yet

Tinggalkan Balasan