Memahami Pikiran, Perasaan dan Tindakan KORUPTOR

Rasanya;  gejala aneh yang tengah terjadi di tengah masyarakat kita adalah suatu drama nan nyata:

Saat ini sepertinya kita yakin betul bahwa satu-satunya pakaian kita dalam menegakkan “DERAJAT diri kita” ditengah-tengah lingkungan dan masyarakat kita, sangatlah bergantung pada penumpukan Harta yang kita miliki. Kita sudah tak lagi mengenal makna: HARKAT, MARTABAT dan DAROJAT (Derajat) dalam Kehidupan kita.

Koruptor berkata(dalam hati): Manakala Hartaku sudah menggunung, bahkan si Anti-Korupsi pun ternyata akan datang berbondong-bondong untuk merapat sambil menuduk-nunduk…? Mereka bahkan rela ngeluarin umpan (modal kecil) buat gue seperti oleh-oleh: MARTABAK demi MARTABAT gue.

Namun demikiankah sejatinya MARTABAT,?

Paman Gober alias Qorun-qorun (Koruptor) Indonesia, begumam: Jangankan kesadaran, memikirkannya saja, cape dee… Harkat…??? Duuh..!!! berat bangat ya, meraba apa maksut kalimat ini…??

Dimana sih, Tempat beli benda bernama HARKAT ini..????

.

ULASAN SOK SERIUS

“Aiiih… Mantan aktivis, tetapi ia seorang tersangka korupsi

Seorang tokoh dengan rekam jejak prestasi segudang berkat modal pengetahuan, intelektul serta wawasan luas, namun pada akhirnya tak mampu menahan diri untuk tetap berfikir dan bertindak dalam kesadaran rasional. Alih-alaih menjaga indahnya prilaku kaum terpelajar yang selalu bergerak dalam bingkai norma hukum, eeh..justru malah terjebak dalam tindakan melawan hukum itu sendiri seperti; kolusi, manipulasi, korupsi, mentransaksikan wewenang seperti kasus suap-menyuap dll.

Kita semua tau bahwa kaum terdidik, intelektual, apalagi mantan aktivis senantiasa terbiasa hidup dalam dunia obyektivitas rasional, penuh kejujuran, kebenaran dan kearifan. Namun yang mulai sering terjadi, perlahan-lahan cara berfikir mulai bergeser dan tindakan mulai bergerak tak kuasa lagi menahan godaan. Atau bahkan bisa saja terperangkap kedalam jebakan dunia baru yang penuh beban, tekanan dan intrik. Akhirnya sikap tanpa pertimbangan terhadap efek, akibat, dan konsekuensi dari tindakan tersebut ke masa yang akan datang hilang entah kemana. Dengan asumsi seperti itu, maka boleh jadi, pendidikan serta wawasan yang dimiliki, dalam batas-batas tertentu ternyata belum menjamin utuhnya kesadaran.

Kesadaran yang terlepas dari tubuh mantan aktivis, kaum akademisi dan intelektual, mengindikasikan tidak adanya basis tujuan atau Visi yang mendalam, meski sarat pengetahuan serta wawasan yang dimiliki. Pendidikan yang berkualitas tentunya adalah pendidikan dalam perspektif etika, yang mampu membentuk kesadaran akan pertimbangan baik dan buruk dari sesuatu hal yang dilakukan.

Inilah dimana saatnya kita membahas fenomena Indonesia yang sedang dilanda tragedi dan perselingkuhan intelektual. Dimana semakin maraknya pejabat dan politikus (yang adalah kaum intelektual), justru mengkhianati bangsa yakni mengangkangi kepentingan umum dengan berlaku tidak jujur.

Yang penting dari fenomena ini, bukanlah kadar intelektual seorang pejabat publik, melainkan lagi-lagi kecenderungan tindakan etis nya. Yakni keutamaan yang menjadikan seseorang mampu memiliki kekuatan moral dan berkarakter baik. Dan jika pejabat kita memiliki itu, tentunya mereka dapat mengontrol diri dari keinginan jahat seperti korupsi. Karena Korupsi adalah tindakan kesewenang-wenagan yang menyelingkuhi kepentingan mayarakat secara terencana.

Faktor lingkungan sosial.

Motivasi selingkuh tentunya sangatlah beragam. Ketika seseorang maling kecil-kecilan mencuri karena ia lapar atau untuk bertahan hidup mengisi perut. Motivasi sekelas ini. umumnya adalah mereka dari kalangan tidak mampu dan berpendidikan rendah. Ada yang mencuri karena ingin memiliki seperti yang orang lain miliki tetapi memilih jalan pintas, tidak mau keluar keringatdan ingin yang cepat secara instant saja. Motivasi model ini, terjadi dalam diri pencuri sepeda motor, mobil, perampok bank, dll.

Gejala yang justru aneh mencengangkan dan telah terbiasa terjadi adalah mencuri uang Negara yang dengan bahasa lain; Melakukan kesewenag-wenagan terhadap uang Rakyat. Kalangan ini umumnya adalah; mereka yang terpandang, terdidik dan sarjana kaum intelektual dengan deret-deretan gelar akademik. Mereka ini dianugerahi oleh Yang Maha Kuasa untuk yang menempati pos-pos Penyelenggaraan Negara; sebagai pejabat, politikus, yang rata-rata telah bebas financial; kebutuhan pangan, sandang dan papan bahkan lebih dari cukup.

Bersambung…..

0 Tanggapan ke “Memahami Pikiran, Perasaan dan Tindakan KORUPTOR”



  1. Belum Ada Tanggapan

Tinggalkan Balasan